Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bertemu lagi dengan saya Puji Rizky Widyaningsih, mahasiswi Magister Pendidikan IPA. Berikut merupakan 2 vidio mengenai Aplikasi Model Pembelajaran Sains Berbasis Disrupsi Inovasi Dan Analisis Praktis Beserta Kelemahan Model-Model Pembelajaran Kooperatif, Kuantum Dan Kolaboratif sebagai tugas UAS Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains.
Video 1 Model PBL: Aplikasi Model Pembelajaran Sains Berbasis Disrupsi Inovasi
A.
Buatlah video
singkat aplikasi model pembelajaran sains berbasis disrupsi inovasi melalui
tutor sebaya
Penjelasan:
Pembelajaran
Era Disrupsi Inovasi ini melatih siswa untuk memiliki kemampuan 4C (creative
thingking, critical thingking, collaboration dan communication). Salah satu
model pembelajaran yang bisa digunakan yaitu Model Pembelajaran Problem Based
Learning (PBL)
Model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model
pembelajaran inovatif. Model pembelajaran ini dapat memberikan kondisi belajar
aktif kepada siswa dimana siswa terlibat untuk memecahkan suatu masalah melalui
tahap-tahap metode ilmiah. Dengan demikian, siswa akan dapat mempelajari
pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki
keterampilan untuk memecahkan masalah.
Langkah-langkah Model Problem Based Learning (PBL):
1.
Kegiatan
Pembuka
-
Guru mengucapkan
salam
-
Berdoa sebelum
memulai pembelajaran
-
Guru menanyakan
kabar siswa
-
Guru mengajak
siswa untuk melakukan ice breaking dan memotivasi siswa
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari
2.
Kegiatan Inti
-
Orientasi siswa
pada masalah
-
Mengorganisasi
siswa untuk belajar
-
Membimbing penyelidikan
individual maupun kelompok
-
Mengembangkan
dan menyajikan hasil
- Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
3.
Kegiatan Penutup
- Peserta didik
dibimbing oleh guru untuk merefleksikan seluruh aktivitas pembelajaran yang
dilakukan
-
Guru memberikan
refleksi kepada siswa berupa pemberian pertanyaan
B. Analisis Praktis Kelemahan Model-model Pembelajaran: Kooperatif, Kuantum dan Kolaboratif
1.
Model Kooperatif
Model pembelajaran
kooperatif adalah metode pembelajaran yang menekankan keterlibatan semua
peserta didik melalui kegiatan diskusi kelompok kecil. Kelompok kecil tersebut
terdiri dari beberapa peserta didik yang kemampuan berbeda. Dalam pembelajaran
kooperatif, siswa saling membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang
ditugaskan dan biasa disebut sebagai pembelajaran gotong royong. Tujuan model
pembelajaran kooperatif adalah membentuk peserta didik menjadi pribadi yang
lebih kuat dan peduli pada sesama, menciptakan keaktifan serta keterlibatan
semua peserta didik dalam pembelajaran, meningkatkan nilai akademik
pembelajaran melalui kerja sama dalam kelompok, dan mengembangkan kepekaan
sosial peserta didik.
Beberapa kelemahan dari penerapan model
pembelajaran kooperatif antara lain:
- Membutuhkan waktu yang lama dalam perencanaan
dan penerapannya guru
harus mempersiapkan pembelajaran secara matang dan membutuhkan banyak tenaga
-
Membutuhkan
fasilitas, alat dan bahan yang memadai
-
Kesulitan
membentuk kelompok yang solid
-
Siswa yang
lebih banyak mengobrol daripada fokus mengerjakan tugas,
- Kurang cocok untuk siswa yang kurang
aktif.
- Kesulitan menilai siswa sebagai
individu
- Memerlukan keterampilan khusus dalam mengelola
kelompok agar tujuan pembelajaran tercapai
2.
Model
Kuantum
Model
Quantum Learnig merupakan salah satu model pmbelajaran yang dilakukan dengan
lingkungan belajar yang menyenangkan akan mampu menggabungkan rasa percaya
diri, keterampilan belajar, dan keterampilan berkomunikasi. Adapun tujuan dari
pembelajaran kuantum (quantum learning) yaitu menciptakan lingkungan belajar
yang efektif, menciptakan proses belajar yang menyenangkan, menyesuaikan
kemampuan otak dengan apa yang dibutuhkan oleh otak, membantu meningkatkan
keberhasilan hidup dan karir serta membantu mempercepat dalam pembelajaran.
Beberapa kelemahan dari penerapan model
pembelajaran kuantum antara lain:
-
Memerlukan
persiapan yang matang bagi guru dan lingkungan yang mendukung.
-
Memerlukan
fasilitas seperti peralatan, tempat, dan biaya yang memadai
-
Model ini dapat
membuat ketidakteraturan di dalam kelas
-
Memerlukan
waktu yang lama dalam pelaksanaannya
-
Kurang dapat
mengontrol siswa
3. Model Kolaboratif
Pembelajaran kolaboratif adalah model pembelajaran
yang mempengaruhi peserta didik bekerja sama dalam kelompok kecil untuk menuju
tujuan bersama.
Beberapa kelemahan dari penerapan model
pembelajaran kuantum antara lain:
- Memerlukan pengelolaan
waktu yang efektif agar semua siswa dapat berkontribusi secara merata.
- Diperlukan
pemahaman yang kuat tentang dinamika sosial dan kemampuan untuk memfasilitasi
kolaborasi antar siswa.
- Memerlukan infrastruktur dan jaringan teknologi informasi komunikasi yang stabil, efisien
- Memerlukan
pengawasan yang baik dari guru, karena jika tidak dilakukan pengawasan yang
baik, maka proses kolaboratif dapat terganggu
- Tidak semua
aspek pembelajaran dapat terlaksana dengan baik, sehingga perlu perhatian khusus
dalam memastikan semua aspek tercakup dengan baik
-
Ada
kecenderungan mencontoh pekerjaan orang lain
-
Memakan waktu
yang cukup lama
-
Sulitnya
mendapat teman yang dapat bekerja sama
- Ada kemungkinan peserta didik kurang aktif dalam kerja kelompok, terutama ketika topik yang diberikan pada masing-masing kelompok berbeda, sehingga dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami dengan baik
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelemahan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif, kuantum, dan kolaboratif dapat bervariasi, namun beberapa faktor umum meliputi:
a. Monitoring Kelompok adalah Pastikan untuk secara aktif memantau dinamika kelompok. Jika ada ketidaksetaraan kontribusi, intervensi diperlukan.
b. Pemilihan Materi yang Tepat adalah Pastikan materi pembelajaran sesuai dengan tingkat pemahaman semua anggota kelompok, agar tidak ada yang merasa tertinggal.
c. Pengelolaan Waktu adalah Perhatikan pengelolaan waktu dalam sesi kooperatif, kuantum, dan kolaborasi. Pastikan kegiatan tidak terlalu lama atau terlalu singkat sehingga menciptakan ketidaknyamanan.
d. Fasilitasi Aktivitas Kelompok adalah Bantu kelompok dalam merencanakan dan melaksanakan tugas mereka. Fasilitasi diskusi dan pastikan semua anggota terlibat aktif.
e. Evaluasi Individual Selain penilaian kelompok, pertimbangkan juga penilaian individu untuk memahami kontribusi masing-masing siswa.
f. Pelatihan Keterampilan Sosial adalah Berikan panduan atau pelatihan keterampilan sosial kepada siswa agar mereka dapat berkomunikasi dan bekerja sama dengan efektif.
g. Variasi Model Pembelajaran adalah Gabungkan model pembelajaran kooperatif dengan model lain untuk memastikan variasi dan memenuhi kebutuhan belajar yang beragam
h. Refleksi dan Umpan Balik adalah Anjurkan refleksi kelompok secara berkala dan berikan umpan balik konstruktif untuk perbaikan.
i. Keterlibatan Orang Tua adalah Melibatkan orang tua dalam mendukung kegiatan pembelajaran kooperatif, kuantum dan kolaborasi dapat membantu mendukung keberhasilan siswa.
Semoga bermanfaat:)
Anggota Kelompok 3:
Elda Meitafia (P2A523002)
Puji Rizky Widyaningsih (P2A523007)
Laila Fitria (P2A523015)
Sabila Eka Septi (P2A523019)
Istiqomah (P2A523027)
a.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar