Rabu, 27 September 2023

Desain Model Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Keterampilan Berpikir Kritis dalam Bidang Sains

Assalamualaikum, salam sehat untuk kita semua

Gimana kabarnya teman-teman ruang ilmu? Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan dan kemudahan dalam menjalankan aktivitas kita. Aaamiin

Kali ini, kita bertemu kembali di blog Ruang Ilmu, tempat bertemu untuk berbagi ilmu. Di pertemuan sebelumnya kita sama-sama telah membahas mengenai model pembelajaran disrupsi inovasi melalui pembelajaran digital. Seperti yang sudah kita bahas pada minggu lalu, perkembangan teknologi memberikan pengaruh yang sangat besar dalam dunia pendidikan. Ada banyak sekali kemudahan-kemudahan yang ditawarkan dalam melaksanakan proses pembelajaran berbasis digital dengan bantuan teknologi.

Di pertemuan kali ini, masih bersama Bapak Dr. Drs. Syamsurizal, M.Si, pada mata kuliah Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains, kita sama-sama mengupas materi mengenai desain model pembelajaran kolaboratif berbasis keterampilan berpikir kritis dalam bidang sains. Sebelum membahas lebih lanjut, kira-kira apakah teman-teman sudah tau mengenai apa aitu kemampuan berpikir kritis?

Pada abad 21 ini, kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan dalam berbagai hal, maka dari itu kemampuan ini perlu di asah dengan sebaik mungkin, salah satunya adalah dengan proses pembelajaran yang mengacu pada aktivitas-aktivitas yang dapat menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Pesatnya arus informasi di masa sekarang, menuntut kita untuk dapat memiliki kemampuan untuk memahami, menganalisis, mengevaluasi dan merefleksikan informasi yang diperoleh sebelum memastikan informasi yang tepat untuk mengambil keputusan. Keterampilan berpikir kritis yang di abad-21 erat kaitannya dengan 4 pilar kehidupan menurut UNESCO yang menyangkut “learning to know (belajar mengetahui), learning to do (belajar melakukan), learning to be (belajar menjadi sesuatu) dan learning to live together (belajar menjadi hidup bersama)”.

Untuk lebih jelasnya, yuk sama-sama simak penjelasan pada video berikut:



Selasa, 26 September 2023

Model Pembelajaran Disrupsi Inovasi melalui IoT, Augmented Reality dan Bentuk Pembelajaran Digital Lainnya

 Assalamualaikum, salam sehat untuk kita semua

Bertemu lagi di blog Ruang Ilmu, tempat bertemu untuk berbagi ilmu. Di pertemuan sebelumnya kita sama-sama telah membahas mengenai quantum learning. Seperti yang sudah kita bahas pada minggu lalu, quantum learning merupakan metode pembelajaran yang berusaha untuk menciptakan rasa nyaman dan senang dalam mengikuti proses pembelajaran.

Kali ini, masih bersama Bapak Dr. Drs. Syamsurizal, M.Si, pada mata kuliah Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains, kita sama-sama mengupas materi mengenai model pembelajaran disrupsi inovasi melalui IoT, Augmented Reality dan bentuk pembelajaran digital lainnya. Sebelum membahas lebih lanjut, kira-kira apakah teman-teman sudah tau apa saja contoh pembelajaran digital selain dari yang disebutkan di atas?

Di era yang serba digital ini, tentunya teman teman-teman sudah sangat paham dengan penggunaan teknologi di berbagai bidang, termasuk di dalam bidang pendidikan. Perkembangan teknologi yang begitu pesat menuntut kita untuk mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang ada. Ada banyak sekali perubahan yang kita alami saat ini, begitu pula dengan perubahan pada metode pembelajaran yang digunakan. Hampir 50% proses pembelajaran yang dilakukan saat ini bergantung dengan teknologi, baik itu dari absensi, pemberian materi maupun penugasan. Ada banyak media dan metode pembelajaran digital yang dapat kita gunakan, seperti Virtual Reality, Podcast, Open Source dan lain-lain.

Untuk lebih jelasnya, yuk sama-sama simak penjelasan dibawah ini:




Jumat, 22 September 2023

Quantum Learning

Metode pembelajaran quantum merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dilakukan dengan adanya pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar situasi belajar. Interaksi antar komponen pendidikan akan mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi kesuksesan belajar yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya. Metode quantum mendasarkan pada pengkondisian kognisi dalam konteks dunia nyata.

Pada dasarnya, metode quantum learning merupakan metode pembelajaran yang memberikan kesempatan yang luas agar peserta didik dapat aktif dan merasa nyaman serta senang dalam mengikuti proses pembelajaran. Agar siswa berperan aktif dalam pembelajaran harus diciptakan suasana menggairahkan dengan menyajikan materi pelajaran yang bersifat menantang, mengesankan dan dapat menumbuhkan serta meningkatkan tingkat kreativitas siswa. Partisipasi aktif peserta didik dalam proses belajar dapat diwujudkan dengan cara membentuk kelompok diskusi, melakukan kerja kelompok dalam rangka membahas materi pelajaran secara bersama-sama.

Prinsip Quantum Learning

Quantum learning memiliki lima prinsip dalam pembelajaran, yaitu:

1.      Segalanya Bicara

Lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, dari kertas yang dibagikan hingga rancangan pelajaran, semuanya mengirim pesan tentang belajar

2.      Segalanya Bertujuan

Yang terjadi dalam pengubahan mempunyai tujuan

3.      Pengalaman Sebelum Pemberian Nama

Otak kita berkembang pesat dengan adanya rancangan kompleks, yang akan menggerakkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah memiliki bekal sebelum proses pembelajaran dimulai

4.      Akui setiap usaha

Belajar mengandung resiko, belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan. Pada saat siswa mengambil langkah ini, mereka patut mendapat penghargaan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka

5.      Jika Layak Dipelajari, Maka Layak Pula Untuk Dirayakan

Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar

Aspek-Aspek Quantum Learning

Adapun aspek-aspek yang dapat diterapkan dalam quantum learning adalah sebagai berikut:

1.      Kekuatan Ambak

Tumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah manfaatnya bagiKu” (AMBAK) dan manfaatkan kehidupan belajar. Ambak adalah motivasi yang didapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat suatu keputusan. Pada langkah ini, guru akan memberikan motivasi kepada siswa dengan memberikan penjelasan tentang manfaat yang akan diperoleh siswa setelah mempelajari materi tersebut

2.      Penataan Lingkungan Belajar

Dalam proses pembelajaran perlu dilakukan penataan lingkungan belajar yang dapat membuat siswa betah dalam mengikuti pembelajaran. Dengan begitu, konsentrasi belajar siswa akan meningkat dan dapat mengurangi rasa bosan yang muncul pada diri siswa

3.      Memupuk Sikap Juara

Seorang guru hendaknya rajin memberikan pujian pada siswa yang telah berhasil dalam belajarnya, namun tidak mencemooh siswa yang belum mampu menguasai materi. Dengan membiasakan diri untuk memuji keberhasilan siswa, maka siswa akan merasa lebih dihargai

4.      Bebaskan Gaya Belajarnya

Terdapat beberapa gaya belajar yang dimiliki oleh siswa, yaitu visual, auditorial dan kinestetik. Dalam quantum learning sebaiknya guru memberikan kebebasan dalam belajar dan tidak terpaku hanya dengan satu gaya belajar saja

5.      Membiasakan Mencatat

Belajar akan dipahami sebagai aktivitas kreasi saat siswa tidak hanya bisa menerima, melainkan juga bisa mengungkapkan kembali apa yang telah dipahami menggunakan gaya bahasanya sendiri. Hal tersebut akan mudah dilakukan melalui tulisan-tulisan siswa dari hasil mencatat

6.      Membiasakan Membaca

Seorang guru hendaknya membiasakan siswa untuk membaca, baik buku pelajaran maupun buku-buku yang lain. Karena dengan membaca akan menambah wawasan dan daya ingat

7.      Menjadikan Anak Lebih Kreatif

Siswa yang aktif merupakan siswa yang memiliki rasa ingin tau yang tinggi, suka mencoba dan senang bermain. Adanya sikap kreatif pada diri siswa akan menghasilkan ide-ide yang cemerlang dalam proses belajarnya

8.      Melatih Kekuatan Memori Anak

Kekuatan memori sangat diperlukan dalam proses belajar anak, sehingga anak perlu dilatih untuk memperoleh kekuatan memori yang baik.

Sabtu, 16 September 2023

Analisis Penerapan Model NHT dalam Pembelajaran

Assalamualaikum Wr. Wb

Halo teman belajar, bertemu lagi bersama saya di blog ruang ilmu. Di pertemuan sebelumnya, kita sudah  membahas mengenai jenis-jenis model pembelajaran kooperatif, yang salah satunya adalah Number Head Together atau yang biasa dikenal dengan singkatan NHT.

Pada tulisan kali ini, kita akan sama-sama memperdalam mengenai model Number Head Together. Model ini merupakan suatu model pembelajaran berkelompok yang setiap anggota kelompoknya bertanggung jawab atas tugas kelompoknya, sehingga tidak ada pemisah antara siswa yang satu dan siswa yang lain dalam satu kelompok untuk saling memberi dan menerima. Model NHT ini terdiri dari beberapa fase, yang diantaranya sebagai berikut:

1. Penomoran

2. Mengajukan Pertanyaan

3. Berpikir Bersama

4. Menjawab

Untuk lebih jelasnya, mari sama-sama kita simak vidio penerapan model NHT dalam pembelajaran beserta analisis kekurangan dan solusi yang dapat diberikan terhadap permasalahan yang ditemukan.

Vidio ini disusun oleh:

Kamisah (P2A523001)

Romi Dwi Putra Efendi (P2A523006)

Puji Rizky Widyaningsih (P2A523007)

Elsa Berlia (P2A523009)

Ahmad Mansur Nawahdani (P2A523018)

Della Oktivia Armitha (P2A523025)

Eiby Lismayani (P2A523026)


Happy Watching


Vidio Penerapan Model NHT dalam Pembelajaran


Vidio Analisis Penerapan Model NHT dalam Pembelajaran







Rabu, 13 September 2023

Refleksi 2 (Pembelajaran Kooperatif)

Assalamualaikum Wr. Wb

Halo teman belajar, bagaimana kabarnya? Semoga kita selalu dalam keadaan sehat dan dan dapat beraktivitas seperti biasa.

Kali ini kita bertemu kembali di blog ruang ilmu. Ruang untuk saling belajar dan bertukar pikiran terkait model-model pembelajaran. Minggu lalu, kita sudah sama-sama membahas mengenai perkembangan teknologi dan pengaruhnya terhadap kemampuan bersosialisasi dalam pembelajaran, serta pembelajaran kooperatif sebagai salah satu solusi untuk menghadapi permasalahan tersebut.

Di pertemuan kali ini, pada mata kuliah Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains, bersama Bapak Dr. Drs Syamsurizal, M.Si, kami mengkaji dan memperdalam mengenai pembelejaran kooperatif, mulai dari prinsip penting, manfaat bagi siswa hingga peran guru dalam proses pembelajaran.

Untuk lebih jelas, mari sama-sama kita simak penjelasan berikut

Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa prinsip penting, yang diantaranya sebagai berikut:

1. Positive Interpedence

Positive interpedence merupakan keadaan dimana siswa saling melengkapi dan saling mengkritisi satu sama lain

2. Individual Countability

Memiliki tanggung jawab (setiap anggota kelompok memiliki kontribusi pada suatu kelompok belajar)

3. Group Processing

Merefleksi/mengkritisi kesepakatan bersama, melihat kekurangan dan kelebihan dari hasil diskusi dan sama-sama mencari solusi atas kekurangan tersebut

4. Interpersonal and Social Skills

Siswa mampu bekerja sama dalam kelompok, saling mempercayai satu sama lain, mampu menyelesaikan permasalahan secara bersama untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

5. Promotive Interaction

Interaksi yang saling menghargai, menerima kekurangan dan kelebihan teman dan menghargai pikiran dan hasil kerja teman.

Adapun manfaat dari pembelajaran kooperatif untuk siswa adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan kemandirian belajar siswa

2. Diberikan kebebasan untuk berpendapat atau mengutarakan gagasan

3. Memperkuat rasa percaya diri

4. Mempermudah transfer pengetahuan

5. Memiliki kemampuan argumentasi yang kuat

6. Menjadi lebih produktif (ada interaksi yang terjadi)

7. Tercapai kesuksesan belajar yang diharapkan

Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, ada beberapa hal yang perlu disiapkan oleh guru, yang diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Guru perlu memastikan terlebih dahulu apakah masing-masing siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik

b. Dapat mengindentifikasi karakter siswa yang akan dibentuk ke dalam kelompok

c. Menentukan sumber atau bahan ajar

Pembelajaran kooperatif dipercaya dapat mengembangkan kemampuan bersosial peserta didik, untuk penerapan hal ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Memberikan pandangan-pandangan kepada siswa atau mengarahkan siswa dalam belajar dengan cara tidak langsung memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan siswa atau dengan kata lain menumbuhkan rasa ingin tau siswa melalui identifikasi dan diskusi bersama teman-temannya.

b. Belajar untuk saling mendengarkan

c. Aktif dalam menawarkan bantuan kepada teman


Minggu, 03 September 2023

Refleksi 1 Perkuliahan Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains

Assalamualaikum, selamat siang

Salam sehat untuk kita semua

Perkenalkan, saya Puji Rizky Widyaningsih, saya merupakan mahasiswa Magister Pendidikan IPA Universitas Jambi angkatan 2023. 

Baik teman-teman, langsung saja izinkan saya untuk menuliskan hasil refleksi perkuliahan model dan evaluasi pembelajaran sains bersama Bapak Dr. Drs. Syamsurizal, M.Si pada pertemuan pertama.

Di pertemuan pertama ini, kami membahas model pembelajaran, yang mana sebagai pengantar perkuliahan kami membahas mengenai perkembangan teknologi dan model kooperatif

Di era saat ini, hampir semua manusia bergantung terhadap teknologi. Hal ini menjadikan teknologi sebagai kebutuhan setiap orang. Dari anak-anak sampai orang dewasa, para ahli hingga orang awam mengandalkan teknologi sebagai kebutuhan sehari-harinya. Banyak orang yang mengatakan bahwa teknologi sudah menjadi separuh bagian dari hidupnya.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat ini tentunya membawa pengaruh terhadap dunia pendidikan. Secara tidak langsung, tuntutan global menuntut dunia pendidikan untuk selalu dapat menyesuaikan perkembangan teknologi terhadap peningkatan mutu pendidikan. Dalam dunia pendidikan, teknologi memiliki peran dalam proses pembelajaran, yaitu memfasilitasi terbentuknya interaksi secara kolaboratif dan membangun makna dalam konteks yang lebih dapat dipahami secara bermakna. Kemampuan interaksi secara kolaboratif tersebut dapat di tumbuhkan melalui proses pembelajaran kooperatif, sehingga mendorong siswa untuk mampu berkolaborasi dengan orang lain dengan perbedaan kemampuan yang mereka miliki dan belajar keterampilan sosial melalui koordinasi penyelesaian tugas bersama teman.

Lalu, apakah teman-teman semua sudah tau apa yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatif?

Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang menekankan pada keterlibatan siswa melalui kegiatan diskusi kelompok kecil. Kelompok kecil tersebut terdiri dari beberapa peserta didik dengan kemampuan yang berbeda-beda. Pembelajaran kooperatif ini bertujuan untuk meningkatkan nilai akademik pembelajaran melalui kerja sama kelompok, membentuk peserta didik menjadi pribadi yang peduli pada sesama serta menciptakan keaktifan dan keterlibatan semua peserta didik dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, terdapat beberapa variasi model yang dapat diterapkan, diantaranya: (a) Jigsaw, (b) Think-Pair-Share, (c) STAD (Student Team Achievment Division), (d) Group Investigation, (d) Team Game Turnament, (e) Number Head Together, (f) Two Stay Two Stray, (g) Make a Match. 

UAS Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains. Model PBL: Aplikasi Model Pembelajaran Sains Berbasis Disrupsi Inovasi dan Analisis Praktis Kelemahan Model-model Pembelajaran: Kooperatif, Kuantum dan Kolaboratif

  Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Bertemu lagi dengan saya Puji Rizky Widyaningsih, mahasiswi Magister Pendidikan IPA. Berikut m...